Pondok Pesantren Mulai Unjuk Gigi dengan Pacuan Kuda

Pacuan kuda tradisional diadakan dilingkungan Pondok Pesantren

Minggu 7 juni 2015 kemarin ada yang ramai di desa girimoyo, kecamatan karangploso, malang. Keramaian ini disebabkan adanya lomba pacuan kuda tradisional dilingkungan pesantren. Sejumlah santri berjubah hitam, lengkap dengan balutan cadar sangat antusias mecau kudannya. Dengan hanya berbekal sepatu kets dan boot dengan tanpa helm sebagai penganaman mereka melakukan perlombaan. Para peserta tampak piawai mengusap ubun-ubun kuda, yang dipercaya sebagai letak keberkahan dari hewan ini.

Perlu diketahui bahwa kompetisi khusus bagi anak pesantren ini menjadi momen pertama untuk bertanding terbuka yang disaksikan oleh masyarakat. Maklum saja selama ini belum pernah ada kompetisi umum yang diikuti. Karena sebagian besar berlomba dengan jubah dan cadar itu dilarang. Jadi lomba hanya dilaksanakan didalam lingkup pesantren.
Pengasuh pesantren An Nashr Malang mengatakan bahwa panitia lomba pacuan kuda melarang menggunakan cadar dan jubah, tambahnya sementara menutup aurat adalah kewajiban, kami tidak mau meninggalkan kewajiban hanya untuk bisa ikut kompetisi dan menggunakan pakaian ketat seperti joki, pada umumnya.

Pondok pesantren juga mengajarkan santri wanitannya berenang, memanah dan berkida ini menjadi peserta terbanyak baik wanita maupun pria. Untuk pacuan kuda saja ini pondok pesantren menyipkan lima peserta. Teman ova ini juga antusias mengikuti lomba. Robab gadis asal brebes jawa tengah ini memang masih pertama kali diluar pondok mengikuti lomba ini lumayan grogi katanya. Untuk kuda, robab memilih kuda Sumbawa sebagai tunggangannya.

Menjelang akhir lomba tak disangka kejadian buruk menimpa robab, dia kehilangan kendali dan terjatuh dari kuda. Selain dia juga ada peserta lain yang terjatuh sebab untyuk masalah lapangannya kurang memenuhi standart. Robab sempat tengkurang lumayan lama, setelah jatuh, tapi syukur tidak apa-apa. Salah seorang penonton malah ada yang tertendang oleh kuda peserta. Kuda itu mengamuk tak terkendali. Sebagai penutupnya pemimpin pondok an nashr mengatakan” niat kami hanya memeprkenalkan pacuan kuda adalah tradisi pondok pesantren, sesuai dengan sunnah rosul”.

Share This:

Comments

comments